Wahai pemuda Islam, bersemangatlah dalam menuntut ilmu agama.

Sabtu, 15 April 2017

Aqidah Episode 0: Pembukaan

Makrifat Sabil Haq


Kajian Aqidah
by Abu Takeru

EPISODE 0: PEMBUKAAN

Ada satu hadiits yang luar biasa.

Rasūlullāh ﷺ bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

May yuridillaahu bihii khairan, yufaqqihhu fid diin.”

Barangsiapa Allaah kehendaki kebaikan untuk dirinya, Allaah akan buat dia paham terhadap ilmu agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037).

Ini ciri-ciri orang yang oleh Allaah ingin diberi hidayah, ingin dirinya jadi baik. Maka Allaah akan membuat dirinya seneng dengan belajar ilmu agama. Banyak diantara kita yang dulu tidak senang dengan ilmu agama. Tau doang, pelajaran di sekolah yang mungkin cuma dua jam per minggu. Itu sangat ga cukup. Dan kita ternyata oleh Allaah dibimbing untuk jadi seneng mentoring, seneng ngedengerin kajian lewat YouTube. Ini ciri-ciri Allaah menghendaki kita kebaikan.

Karena kalau orang tidak belajar ilmu agama, ia tidak akan tahu mana yang halal mana yang haram. Dulu aja coba inget-inget deh, kalau di antara kita ada yang pernah pacaran waktu SMP, bahkan SD, atau SMA, waktu kita ga seneng belajar ilmu Islam, kita pacaran aja biasa. Namun ketika Allaah membimbing kita untuk seneng ilmu Islam, maka MINIMAL saat pacaran pun ada perasaan berdosa. Tau kalau itu tuh haram. Itulah efek dari belajar ilmu Islam.

Namun jangan lupa, kajian ilmu Islam yang terbaik adalah hadir langsung ke para ulama. Di mesjid-mesjid, ke ustadz yang ilmunya luar biasa. Kenapa? Karena Nabi ﷺ bersabda,

“Barangsiapa yang hadir ke masjid, untuk mempelajari kebaikan (yaitu ilmu Islam) atau mengajarkannya, maka baginya pahala haji yang sempurna.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 8: 94. Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 86 menyatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

Subhaanallaah. Kalau misal kita datang ke rumah pementor, dateng ke rumah orang yang bisa ngajarin ilmu agama (belajar tajwid, tafsir, dan lain-lain), itu juga luar biasa. Namun walaupun kita ga melakukannya, minimal lewat Line, dengerin rekaman ceramah pun udah besar pahalanya.

***

Dalam awal pembahasan kitab Tazkiyatun Nafs, Said Hawa berkata, “Ilmu Islam itu lebih mulia daripada ilmu kedokteran. Namun janganlah kalian mengira bahwasanya kami meremehkan ilmu kedokteran.”

Subhaanallaah. Kalian tau ga sih, pahala mempelajari ilmu kedokteran? Yang dipakai untuk mashlahat, manfaat untuk orang banyak. Itu pahalanya besar banget. Bahkan, pezina yang ngasih minum ke anjing aja dimaafkan dosa zinanya, gimana dengan dokter, yang dengan izin Allaah bisa ngobatin orang sakit, nyelamatin orang dari kematian (tentunya semua dengan izin Allaah). Tentu pahala bagi mereka besar banget tuh. Namun tetap, mempelajari ilmu Islam melampaui pahala mempelajari ilmu kedokteran.

Sekali lagi, bukan meremehkan ilmu-ilmu yang lain yang bermanfaat. Karena kalau kalian ahli dalam kedokteran dan kalian paham ilmu Islam, wah itu bisa jadi ladang dakwah yang besar. Karena dengan begitu lah kita ini dakwahnya bisa nyebar. Masing-masing orang dakwah di bidang masing-masing.

Namun tentunya untuk dakwah, harus ada modal. Modal dakwah adalah ilmu Islam. Ga bisa kita cuman punya semangat, dan kita ga ngerti ilmu Islam. Nanti ketika ditanya oleh orang lain tentang hukum halal dan haram, kita malah bingung.

“Terus kalau mau dakwah caranya gimana nih? Apakah bisa langsung der der?”

Nah kita juga harus belajar ilmu berdakwah.

***


MASALAH DI SEKITAR KITA


Ada beberapa masalah yang ada di sekitar kita. Tentunya bukan untuk diabaikan, bukan juga untuk dijelek-jelekkan, namun untuk diluruskan.

1. Sebagian diantara kita, mempelajari ilmu Islam, namun tahapannya salah.


Kita malah memahami ilmu-ilmu Islam yang sifatnya cabang. Ilmu Islam yang sifatnya cabang ini, pasti ada perbedaan diantara para ulama. Contohnya: (1) qunut shubuh; (2) kalau sujud tangan dulu atau kaki dulu.

Ini semua perlu dipelajari. Namun jangan lupa itu adalah ilmu Islam yang sifatnya cabang, sehingga wajar kalau banyak perbedaan. Selama masih punya dalil, maka kita pelajari yang paling dalamnya, mana nih yang paling sesuai dalilnya, setelah itu kita amalkan. Dan kita toleran terhadap pendapat yang lain. Ada pun ilmu tentang fundamental Islam, maka ini kita semua harus sepakat.

Untuk seneng belajar ilmu Islam, namun kita harus ngerti tahapannya nih.

Belajar ilmu Islam itu pertama harus yang fundamental (pokok) yang ulama sepakat akan hal ini. Kenapa? Karena justru yang fundamental inilah yang akan menguatkan iman kita. Setelah kita belajar yang fundamental, tentu kita belajar yang cabang-cabang, masalah qunut shubuh, tarawih berapa rakaat, insyaaAllaah kita pelajari juga.

Ga ada yang ga penting dalam ilmu Islam. Hanya saja tingkatan pentingnya berbeda-beda. Ada yang paling tinggi, yaitu tentang iman kepada Allaah, Malaikat, dan lain-lain. Ada juga yang tingkatan pentingnya lebih rendah.

Nah, itulah kesalahan pertama di antara kita yaitu belajar ilmu Islam-nya bukan dari fundamental dulu, tapi dari ilmu-ilmu yang sifatnya tingkatannya lebih rendah. Seperti ada seseorang yang sekarang udah murtad (keluar dari Islam), semoga Allaah ngasih dia hidayah untuk kembali pada Islam. Ketika dia semangat belajar ilmu Islam, yang dia pelajari bukan tauhid dulu tapi malah bagaimana cara bercinta yang syar’i, buku-buku yang dia beli adalah tentang pacaran islami, ya Allaah, ini kurang sesuai. Seharusnya kalau misalnya baru seneng ilmu Islam, pelajari dulu yang penting, yang paling pentingnya, kemudian baru yang lain-lain. Ya ujung-ujungnya dia hanya dengan bisikan dari beberapa temennya yang aliran sesat, akhirnya dia murtad. Subhaanallaah, semoga Allaah ngasih dia hidayah.

2. Efek dari kurang belajar ilmu yang fundamental adalah kita banyak nanya pertanyaan yang kurang penting.

Contohnya:
  • Gimana hukumnya shalat di bulan? Menghadap mana?
Ini ga usah ditanyain, kan kita ga akan ke bulan.
  • Gimana kalau di Kutub Utara? Karena waktunya kan susah nentuin shubuh, zhuhur, ashar, maghrib, isya’.
Akhi ngapain nanya? Yang perlu nanya tuh orang yang ada di Kutub Utara.
  • “Ya’juj dan Ma’juj agamanya apa?”
  • “Fir’aun istrinya berapa?”
Jadi efek dari kurang belajar ilmu fundamental adalah kita malah sibuk nanyain pertanyaan yang kagak penting. Nah semoga Allaah meluruskan.

3. Efek dari belajar ilmu ga dari yang fundamental dulu adalah kita banyak melakukan komen di medsos dengan komen yang sangat berbahaya.


Kenapa? Karena kita ini ikut-ikutan dengan ucapan orang-orang yang ga ngerti yang kita anggap baik, sehingga kita malah jadi ikut komen. Contohnya adalah,

“Udahlah, kita harus toleran dengan agama lain, kenapa ga boleh ucapin selamat Natal? Bukankah dalam agama kita harus toleran?”

Betul agama kita harus toleran, tapi ada batasannya nih. Karena kita ga belajar ilmu pokok yang fundamental, akhirnya kita malah ga memahami, sampai tolerannya kelewat batas. Sampai ada tuh saudara kita yang ikut ke gereja untuk ngerayain natal diantara golongan JIL (Jaringan Islam Liberal) yang pemikirannya banyak sesat, ya orang-orang awam yang ga ngerti ilmu fundamental akan ikut-ikutan. Nah, makanya kita perlu belajar pokok-pokok agama.

Komen selanjutnya tuh ada yang bilang kayak,

“Syi’ah itu ga sesat, Syi’ah mah cuma perbedaan madzhab. Syi’ah terbagi jadi dua golongan. Ada Syi’ah yang masih lurus, ada yang udah nyimpang. Jadi kalau misalnya ada orang Syi’ah, kita ga boleh langsung katakan dia sesat, Syi’ah itu hanya perbedaan dikit kok.”

Ini juga bahaya nih pemikiran seperti ini. Sungguh ulama seperti Yusuf Qardhawi dulu memang beliau pernah bilang Syi’ah ga sesat, namun ketika beliau tahu lebih dalam tentang Syi’ah, maka beliau taubat. Beliau meralat dengan mengatakan, “Syi’ah dan Sunni (Islam) tidak akan pernah bersatu.”

Tuh kan seperti itu ya. Jadi, alhamdulillaah nih kalau para ulama setelah mengetahui kebenaran, mereka langsung kembali meralat ucapan mereka. Tapi kalau orang-orang kayak kita nih kayaknya susah, susah untuk meluruskan pemahaman kita kalau ga mau belajar ilmu pokok agama.

***

Nah inget, ya akhii dan ukhtii bahwasanya bisikan setan itu sangat banyak di dunia ini. Namun kita harus ingat bahwasanya Allaah berfirman,

اِنَّ كَيْدَ الشَّيْطٰنِ كَانَ ضَعِيْفًا ...
“…Inna kaidasy syaithaana kaana dha’iifaa.”

“…Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah." (QS. An-Nisaa' [4]: 76)

Namun kenapa diantara kita ada yang masih ikut dengan tipu daya setan? Karena iman kita lebih lemah lagi daripada tipu daya setan. Ibaratnya ginilah, sekarang setan itu sudah menampakkan gigi-gigi taring mereka. Dan sebenernya gigi taring mereka itu tumpul. Cuman kalau iman kita selembek ager-ager, ya gampang dihancurin gigi taring setan yang tumpul.
Setan itu lemah, senjata mereka itu gigi taring mereka (ini ibarat ya, hanya perumpanaan). Gigi taring mereka itu tumpul. Ga bisa buat merobek iman yang kuat. Kalau iman kita selembek ager, ya gampang dirusak. Tapi kalau iman kita sekuat pohon kurma, maka walaupun gigi taring setan itu sekeras pisau, ga akan mungkin bisa menebangnya. 

Mari kita kuatkan iman kita.


Abu Takeru / Author & Editor

Bernama asli Rizal Fadli Nurhadi. Alumni East Preston Islamic College, Melbourne, Victoria, Australia. Pernah belajar di bawah bimbingan dai nasional Australia, di antaranya Abu Hamzah, Umar Zouk, dan Bilal Assad. Saat ini aktif mengisi kajian komunitas Paradisean Youth.

0 komentar:

Posting Komentar

Diharapkan tidak berkomentar atas dasar fanatisme golongan kepada ustadz atau organisasi tertentu.Akan tetapi, gunakan dalil dari Alquran dan Sunnah dengan pemahaman para generasi terdahulu (sahabat, tabi'in, dan tabiut tabi'in).

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Templateism | Distributed By Gooyaabi Templates | Modified by Zain Ibn Sufry